Dikeluhkan Masyarakat Terkait Banjir, Wali Kota Medan Instruksikan segera Dilakukan Pengorekan dan Pembersihan Parit Sulang Saling - Bicara News | Bicara Membangun Nusantara

Header Ads

Header ADS

Dikeluhkan Masyarakat Terkait Banjir, Wali Kota Medan Instruksikan segera Dilakukan Pengorekan dan Pembersihan Parit Sulang Saling

Bicaranews.com|Medan - Keluhan masyarakat terkait banjir yang selama ini  dialami  akibat  pendangkalan Parit Sulang Saling langsung dijawab Wali Kota Medan Muhammad  Bobby Afif Nasution SE MM. Guna menangani banjir tersebut, Wali Kota memimpin rapat di Balai Kota, Rabu (10/3). Dari hasil rapat yang dilakukan, Wali Kota menginstruksikan segera dilakukan pengorekan dan pembersihan Parit Sulang Saling secara massal, Sabtu (13/3).

Selain mengerahkan alat berat milik Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Medan, pengorekan juga akan dilakukan secara manual dengan melibatkan Petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (P3SU).

Pengorekan dan pembersihan akan dilakukan di 5 kecamatan yang dilintasi Parit Sulang Saling, yakni Kecamatan Medan Amplas di Jalan Selamat Pulau, Kelurahan Sitirejo III, Medan Timur (Jalan Veteran, Jalan I s/d Jalan IV, serta Jalan Bilal), Medan Denai (Jalan HM Joni, Kelurahan Binjai), Medan Perjuangan (Jalan Mabar Kelurahan Si Kera Hilir II) serta Medan Area (Jalan Asia Raya Komplek Asia Mega Mas).

 “Saya minta  pengorekan yang dilakukan harus maksimal dan  berkelanjutan hingga tuntas sehingga sendimentasi yang terjadi dapat diatasi,” kata Wali Kota.

Selain pengorekan dan pembersihan parit  Sulang Saling, Wali Kota dalam rapat yang didampingi Plt Asisten Pemerintahan dan Sosial Setdako Medan Khairul Syahnan, Kadis PU Kota Medan Zulfansyah Ali Syahputra, Kadis Kebersihan dan Pertamanan M Husni, Kabag Tapem Ridho Nasution serta enam camat yang wilayahnya yang dilintasi Parit Sulang Saling, juga mengingatkan agar dipikirkan  dengan matang tempat pembuangan sendimentasi dan sampah hasil pengerukan yang dilakukan.

Selanjutnya Wali Kota dalam rapat menekankan,  penanganan banjir tidak hanya dilakukan dengan melakukan pengorekan saja, tetapi harus dibuat juga grand desain permasalahan banjir tersebut. Dengan grand desain yang dibuat tersebut, dapat dilakukan pemetaan, baik  faktor penyebab terjadinya banjir serta langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mengatasinya. Termasuk, perlunya  dilakukan kerjasama dengan pemerintah provinsi maupun pemerintah pusat, sehingga penanganan banjir yang dilakukan berjalan dengan baik.

Oleh karenanya, tegas Wali Kota, penanganan banjir yang dilakukan harus dilakukan dengan baik dan matang. Selain harus mendapat supporting penuh dari pihak kecamatan dan kelurahan, perlu juga diciptakan penanganan yang baik mulai dari proyek hulunya. Dengan demikian penanganan banjir yang dilakukan tidak sekedar seremonial, tetapi mampu mengatasi persoalan banjir  yang selama ini dikeluhkan masyarakat.

Di kesempatan itu Wali Kota menegaskan, penanganan banjir harus dilakukan secepatnya, sebab masuk dalam salah satu program prioritas utama yang harus diselesaikan. Apabila dalam penanganannya ada kendala di luar kewenangan, Wali Kota mengingatkan, baik camat maupun OPD terkait segera sampaikan kepada dirinya.

“Hari ini ruangan Wali Kota bukan ruangan yang sakral dan tidak bisa dimasuki, silahkan saja masuk. Di ruangan saya itu tidak ada meja kerja, semuanya meja panjang untuk rapat. Jadi silahkan saja, mari kita diskusi bersama untuk menyelesaikan masalah. Apabila harus turun ke lapangan, hari itu juga kita turun ke lapangan bersama-sama. Itu yang kita butuhkan,” tegasnya.

Dalam rapat tersebut, keenam camat yang hadir lebih dulu memaparkan  persoalan banjir yang terjadi di wilayahnya masing-masing. Selain akibat pendangkalan Parit Sulang Saling yang sudah lama tidak dinormalisasi, tidak sedikit pihak developer yang menutup permukaan parit. Kondisi itu menyebabkan parit tidak mampu menampung debit air ketika hujan turun. Akibatnya air meluap dan menggenangi rumah mau pun badan jalan.

Ditambah lagi, penanganan yang dilakukan selama ini umumnya dilakukan secara manual dengan menggunakan peralatan seadanya. Sebab, alat berat kesulitan masuk  ke lokasi untuk melakukan normalisasi  akibat  tidak adanya akses jalan masuk  menyusul banyak berdirinya bangunan milik warga. Kondisi itu lah yang menyebabkan banjir acapkali menerpa tersebut.(hms/bn)

Diberdayakan oleh Blogger.