Lukai Perasaan Masyarakat Papatar, Gempar dan AMK Aksi Damai ke Kantor Bupati Humbahas Desak Bupati Minta Maaf - Bicara News | Bicara Membangun Nusantara

Header Ads

Header ADS

Lukai Perasaan Masyarakat Papatar, Gempar dan AMK Aksi Damai ke Kantor Bupati Humbahas Desak Bupati Minta Maaf

Bicaranews.com|Humbahas - Generasi Muda Papatar (Gempar) bersama Aliansi Masyarakat Kampus (AMK) Humbang Hasundutan (Humbahas) mendatangi Kantor Bupati Humbahas di Bukit Inspirasi Komplek Perkantoran Doloksanggul, Selasa (6/7/2021).

Aksi damai belasan orang sambil membawa sejumlah spanduk besar yang bertuliskan "Kami Mengecam Keras Arogansi Dosmar Banjarnahor". 

Mereka mendesak Bupati Humbahas Dosmar Banjarnahor untuk menyampaikan permintaan maaf atas ucapannya yang menyebutkan "orang atau tidak" yang ditandu warga Dusun Nambadia, Desa Sihastonga, Kecamatan Parlilitan tersebut.

Sebab menurut mereka, pernyataan bupati itu, sangat melukai perasaan dan hati masyarakat Humbahas, khususnya masyarakat Papatar (Pakkat, Parlilitan dan Tarabintang), dan terlebih warga Dusun Nambadia. 

Padahal pada kenyataannya yang ditandu itu adalah seorang wanita yang baru melahirkan di Puskemas Parlilitan dan terpaksa ditandu pulang menuju rumahnya karena kondisi akses jalan yang tidak layak untuk dilalui kendaraan.  

"Tidak sewajarnya kalimat seperti itu keluar dari mulut seorang bupati. Kami ingatkan agar Bupati Dosmar Banjarnahor ke depan tidak asal bicara dan sesuka sukanya ngomong kepada rakyat," kata orator aksi Mader Hasugian.

Hal yang sama juga disampaikan Ketua AMK Humbahas Richard Siburian. Dia sangat mengecam keras pernyataan Dosmar Banjarnahor yang menyebut orang atau tidak yang ditandu warga yang sempat viral di media sosial itu.

"Kami dari AMK, mewakili masyarakat Kabupaten Humbang Hasundutan mengecam keras pernyataan Bupati Humbang Hasundutan Dosmar Banjarnahor tentang penanduan yang terjadi di Nambadia Kecamatan Parlilitan. Bupati Dosmar Banjarnahor harus segera turun ke lapangan ini untuk memberikan klarifikasi dan minta maaf kepada masyarakat Humbang Hasundutan, khususnya masyarakat Kecamatan Parlilitan," ucapnya.

Sebagai seorang kepala daerah, kata dia, Dosmar Banjarnahor tidak selayaknya mengeluarkan statemen yang menimbulkan pro dan kontra di tengah-tengah masyarakat. "Dalam hal ini bupati, selaku pimpinan daerah tidak becus dan beretika berbicara menyakiti masyarakatnya sendiri," ujarnya.

Setelah menunggu beberapa saat, aksi yang dikawal ketat oleh petugas Kepolisian dan Satpol PP itu akhirnya ditemui oleh Sekdakab Tonny Sihombing. Dia menyampaikan bahwa Bupati Humbahas tidak dapat menemui rombongan aksi karena dalam kondisi kurang sehat (sakit). 

"Yang pertama, bapak bupati sedang tidak berada di sini bersama dengan kita, karena beliau sedang sakit. Yang kedua, hal-hal aspirasi yang bapak sampaikan, akan kami sampaikan kepada pak bupati. Itu (pernyataannya, red) pegang. Saya bertanggungjawab. Akan saya sampaikan kepada pimpinan kami bapak bupati. Artinya mohon bapak ibu memaklumi," kata Tonny.

Tidak puas mendengar pernyataan itu, massa terus mendesak Sekdakab untuk menghadirkan bupati dalam aksi itu. Bahkan massa berupaya untuk menjumpai dan mendobrak ruang kerja bupati ke untuk memastikan apakah benar, bupati sedang sakit dan tidak berada di ruang kerjanya.

Tidak berhenti di situ, massa terus berupaya mencari keberadaan bupati dengan mendatangi rumah dinasnya yang berdekatan dengan kantor bupati. Namun massa dihadang oleh petugas Satpol PP di pintu masuk. Beberapa orang massa berupaya masuk ke halaman rumah dinas bupati dengan melompat pagar. Namun mereka langsung diamankan oleh petugas Satpol PP.

Massa akhirnya membubarkan diri dengan tenang, setelah kembali dijumpai oleh Sekdakab di lokasi parkiran kenderaan.

Sebelumnya diberitakan, Bupati Humbahas Dosmar Banjarnahor menepis pemberitaan seorang ibu yang baru melahirkan ditandu warga di dalam sarung menuju tempat tinggalnya di Dusun Nambadia, Desa Sihastonga, Kecamatan Parlilitan yang sudah viral di media sosial beberapa pekan terakhir ini.

Dalam sesi wawancara itu, Dosmar terkesan ngotot tidak percaya dengan video yang sudah viral tersebut, meskipun wartawan telah mengatakan, kalau peristiwa yang terekam di video itu telah diakui oleh kepala desa setempat. (t/bn)

Diberdayakan oleh Blogger.