Lagi, Seorang Dokter Meninggal Dunia di Medan Akibat COVID-19, IDI Kembali Berkabung - Bicara News | Bicara Membangun Nusantara

Header Ads

Header ADS

Lagi, Seorang Dokter Meninggal Dunia di Medan Akibat COVID-19, IDI Kembali Berkabung


Bicara News|Medan – Lagi, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) cabang Medan kembali berkabung. Sebab, salahsatu anggotanya, dr. Dennis meninggal dunia akibat Covid-19 di RS Siloam, Rabu (12/8/2020) malam.

dr. Dennis menjadi dokter termuda yang gugur akibat Covid-19, setelah sebelumnya enam rekan sejawatnya lebih dulu meninggal. “Iya, anggota kita kembali gugur akibat Covid-19. Di antaranya 7 dokter di Medan yang meninggal karena Covid-19, dr. Dennis paling muda usia 32 tahun,” kata Ketua IDI Cabang Medan dr. Wijaya Juwarna Sp-THT-KL, Rabu (12/8/2020).

Menurut sepengetahuan Wijaya, almarhum bekerja di salahsatu klinik. “Setahu saya almarhum bekerja di salah satu klinik, tidak langsung menangani pasien Covid-19. Saat ini temannya yang bekerja diklinik yang sama tengah dirawat di ICU salah satu RS di kota Medan,” imbuhnya dikutip dari Sumutcyber.

“Kekhawatiran saya justru layanan untuk pasien non Covid-19 akan terganggu, mengingat banyak kawan-kawan tenaga kesehatan yang justru tidak langsung menangani pasien covid terinfeksi saat ini. Oleh karena itu sangat penting memetakan kembali RS yang ada. Jika dinilai satu RS lebih bermakna jika menangani pasien Non-Covid, maka RS tersebut tidak boleh menangani pasien Covid, begitu sebaliknya,” tambahnya lagi.


Kemudian, Wijaya Juwarna memastikan, tidak ada satupun dokter akan meninggalkan tanggungjawab karena banyak rekan sejawat meninggal akibat Covid-19, sepanjang dia mampu bertahan.

“Saya yakin dan percaya tidak ada satupun dokter akan meninggalkan tanggungjawabnya ini sepanjang masih mampu dia bertahan di tengah krisis semangat dan bahaya infeksi covid-19 yang selalu mengancam,” tegasnya.

Jauh sebelum ada Covid-19, lanjutnya lagi, dokter selalu berpegang teguh pada sumpahnya untuk mengutamakan kesembuhan pasiennya bahkan menghargai kehidupan sejak masa pembuahan. “Namun dibalik prinsip sumpahnya tersebut, para dokter sebagai warga negara juga wajib mendapat perlindungan dari negara layaknya warga negara lainnya,” pungkasnya.

“Kiranya kita masih berharap dukungan seluruh pihak, baik dari pemerintah dan masyarakat untuk turut menghargai perjuangan para dokter yang dalam tidurnya seolah tetap terbangun karena ketika mereka bertugas seolah-olah menghadapi jutaan peluru yang tidak terlihat mata,” harap Wijaya.

Dia juga menyarankan, rekan sejawat yang mempunyai penyakit penyerta untuk istirahat sejenak 3-4 Minggu. “Saran saya untuk 3-4 minggu kedepan istirahat sejenak. Bagi sejawat yang bertugas langsung di ruang isolasi agar beristirahat 2 minggu setelah 2 minggu bertugas,” tambahnya. (SC/bn)

Diberdayakan oleh Blogger.